Sunday, March 23, 2008

Pembahasan 22-Mar-08

Orang-Orang yang Murtad setelah Beriman

QS 5:54
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

QS 5:54 tersebut adalah pemberitahuan Allah kepada Nabi bahwa pada saat Nabi wafat nanti banyak orang-orang yang dulunya Islam akan murtad dan kembali ke agama mereka sebelumnya (nasrani, musyrik dan yahudi).

Orang-orang murtad di neraka nanti akan dilaknati oleh seluruh manusia dan alam semesta.

Nabi melarang menyolatkan orang-orang yang murtad ketika mereka meninggal dan melarang mengambil zakat dari mereka

Kondisi demikian yaitu banyaknya orang-orang yang pada saat Nabi hidup masuk Islam, dan ketika Nabi wafat kembali ke agama mereka semula, melemahkan keadaan umat Islam saat itu karena otomatis jumlah umat Islam berkurang dan jumlah orang-orang yang kembali kafir bertambah.

Orang-orang yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali atau pelindung mereka, maka mereka termasuk dalam golongan mereka.

QS 2:165 “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Orang-orang beriman harus lebih besar cintanya kepada Allah dari apapun.

Tidak seperti orang-orang kafir yang lebih mencintai berhala-berhala mereka seperti sebagaimana mereka seharusnya mencintai Allah.

Pada masa Nabi, orang-orang kafir jika ingin menyembah berhala-berhala mereka membawa sesembahan dengan memotong kambing untuk diserahkan kepada berhala-berhala tersebut.

Bukti dari cinta orang-orang beriman kepada Allah adalah dengan mengikuti sunnah Nabi, seperti yang terdapat pada QS 3:31

QS 3:31 “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Manusia ingin taat kepada Allah ataupun tidak, bukanlah tanggung jawab Nabi karena Nabi diutus hanyalah untuk menyampaikan perintah Allah dengan jelas kepada manusia. Manusia bebas memilih apakah mereka mau taat atau pun ingkat kepada Allah.

QS4:80 “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”

Seorang pemimpin rumah tangga (bapak) bertanggung jawab atas dirinya, keluarganya dan anak-anaknya, dan mengajarkan dan memastikan bahwa keluarga dan anak-anaknya senantiasa mendirikan shalat (sampai anak-anaknya dewasa).

QS 66:6 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

QS 20:132 “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kami lah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”


Tentang Badal Haji

Sehubungan dengan amalan ibadah Haji, bagi orang yang telah meninggal tidak ada badal haji. Jika orang telah meninggal maka kewajiban berhaji sudah putus bersamaan dengan wafatnya orang tersebut. Demikian juga jika orang tersebut tidak sanggup/mampu menunaikan hajinya (seperti sakit, tidak memiliki biaya, sudah tua), maka menunaikan haji tidak lagi menjadi kewajibannya.

QS 3:97 “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Manusia mendapatkan balasan dari amalan-amalah yang dikerjakannya sendiri, dan manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Manusia tidak memikul dosa orang lain.

QS 53:38 “(yaitu) bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

QS 53:39 “dan bahwasannya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Tentang Nazar

QS 2:270 “Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolong pun baginya.”

QS 76:7 “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”

Nazar harus dipenuhi dan harus sesuatu yang bermanfaat. Apabila nazar tidak dipenuhi, maka wajib membayar kafarat dengan berpuasa selama 3 hari berturut-turut.

Tentang Wasiat

Jika ahli waris tidak mampu menjalankan wasiat dari orang yang meninggal, maka boleh tidak dilakukan. Begitu pula dengan wasiat yang bertentangan dengan ajaran agama, maka ahli waris boleh tidak melakukannya atau menukarnya dengan hal-hal yang sesuai dengan agama.

Tentang Jual Beli dengan Allah

Allah membeli orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan surga.

QS 9:111 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janji (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Tentang Orang-Orang Murtad dan Kembali Lagi ke Islam

Orang yang semula Islam lalu murtad dan kembali lagi ke Islam masih diberi kesempatan asal dibarengi dengan mengerjakan amal sholat. Namun jika ia kembali kafir setelah kembali Islam, maka ia akan semakin bertambah kekafirannya dan Allah tidak memberikan ampunan kepada mereka.

QS 4:137 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudia kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.”

Tentang Keteguhan Iman

Allah mengetahui apa-apa yang ada dalam hati orang-orang Islam yang teguh keimanannya. Atas keteguhan iman tersebut Allah akan menambah keteguhan iman mereka.

Orang-orang yang teguh imannya patut bersyukur kepada Allah karena keteguhan iman mereka semata-mata adalah karena karunia dari Allah semata.

Kisah keteguhan iman dalam Al-Quran:

QS 85:4-8 “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu baker, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

Orang-orang mu’min yang karena rasa takut dank arena terpaksa menyembunyikan keimanannya, Allah memberikan ampunan kepada mereka.

Namun orang-orang yang memang senang untuk menjadi kafir, maka Allah akan mengazab mereka.

QS 16:106 “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”

Mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan di akhirat.

QS 16:107 “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”

QS 16:108 “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”

QS 16:109 “Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.”


Padahal kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat. Manusia hidup di dunia hanya sebagai khalifah (wakil Allah) yang bertugas memelihara dunia dan menyembah Allah sesuai ketentuan Allah.

QS 29:64 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Saturday, March 15, 2008

Pembahasan 15-Mar-08

Orang-Orang Munafik

QS 5:52
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mencapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

• Keimanan orang-orang munafik masih sebatas mulut saja. Mereka belum sepenuhnya beriman. Sementara orang-orang mu’min memiliki keimanan yang teguh dalam hati mereka.

• Orang-orang munafik yang lemah imannya tersebut tidak ingin berteman dengan orang-orang beriman karena takut akan kelaparan/kemiskinan.

• Pada masa-masa awal Nabi berdakwah, orang-orang Yahudi dan Nasrani lah yang menguasai perekonomian dan perdagangan. Oleh karena itulah orang-orang munafik bergabung dengan mereka dengan harapan mendapatkan keuntungan dan kesejahteraan duniawi dari Yahudi dan Nasrani.

QS 22:40 “(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampong halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

• Demikian juga halnya dengan kondisi saat ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan pada zaman Nabi tersebut. Banyak umat Islam (yang munafik) bergabung dan berwali kepada Yahudi & Nasrani karena mereka menguasai perekonomian dan perdagangan dunia saat ini.

• Untuk menyikapi keadaan ini, sebagai umat Islam yang beriman, kita harus mulai dan terus berjuang untuk membela agama Allah walaupun dengan tindakan yang kecil. Sama halnya ketika Nabi memulai perjuangannya dalam menyampaikan agama Islam (merujuk ke perang Badar yang diceritakan dalam Al-Quran 3:123).

QS 3:123 “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”

• Sebagai orang beriman, kita harus mulai melakukan sesuatu untuk menolong agama Allah dengan sumber daya apapun yang kita miliki saat ini.

• Wujud perjuangan umat Islam saat ini dalam berjihad adalah dengan meningkatkan keimanan dan berdakwah untuk membina umat, serta memberantas kemungkaran yang ada di sekitar kita.

• Dan dakwah yang terbaik adalah ‘dakwal bil hal’ atau dakwah dengan perbuatan. Jika kita ingin berdakwah maka harus dengan perbuatan langsung dan tindakan nyata.

QS 8:60 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

QS 24:55 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”


• Salahuddin Al Ayubi adalah pemimpin umat Islam yang berhasil mengalahkan tentara Salib dan mengusir mereka dari negeri Palestina.

QS 33:12 “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.”

• Orang-orang munafik beranggapan bahwa janji Allah dan Rasul adalah tipu daya semata karena umat Islam masih dalam keadaan yang sulit, dan mereka pun enggan berteman dengan orang-orang beriman karena merasa tidak dapat memperoleh keuntungan duniawi.

• Namun Allah membuktikan bahwa apa yang mereka anggap tersebut tidak benar dengan memberikan kemenangan kepada Nabi di perang Badar. Dan orang-orang munafik pun menyesali anggapan tersebut.

QS 2:216 “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

• Nabi tidak berperang melawan orang-orang kafir sampai diturunkannya ayat ini sebagai perintah untuk berperang dari Allah SWT.

• Amal ibadah orang-orang munafik sia-sia belaka karena mereka berwali kepada Yahudi & Nasrani dan bersama-sama berusaha menjatuhkan umat Islam dan memusuhi agama Allah.

QS 5:53
“Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar bererta kamu?”. Rusak binasalah segala ama mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.”


• Amal ibadah orang-orang munafik sia-sia belaka karena mereka berwali kepada Yahuni dan Nasrani dan bersama-sama mereka berupaya untuk menjatuhkan umat Islam dan memusuhi agama Allah.

• Ciri-ciri orang munafik adalah mencari keuntungan duniawi untuk diri mereka sendiri. Oleh karena itu mereka akan berpihak kepada siapapun yang menurut mereka akan memberikan keuntungan untuk mereka.

Kursus Memandikan Jenazah





Pada 8 Maret 2008, KPSS Al-Azhar mengadakan Kursus Memandikan Jenazah di mesjid ustadz kami di daerah Kebon Jeruk. Kursus ini dipandu oleh ustadz kami Pak Abuddin. Setelah itu, beberapa teman-teman juga menjenguk Lisa di rumahnya. Lisa baru saja selesai operasi usus buntu. Semoga cepat sembuh ya Lisa... Berikut foto-fotonya: